Skip to main content

Mencintaimu seperti mendaki gunung



Laki laki ini masih berdiri di sini, masih mencintai 1 wanita yang sama
Wanita pertama dalam hidupnya, dan akan menjadi yang terakhir baginya
Aku tidak mengerti kenapa banyak laki laki yang mengingkari janji
Aku tidak mengerti kenapa banyak wanita yang menomorduakan cinta
Aku tidak mengerti kenapa banyak anak muda yang bermain dengan cinta
Aku tidak mengerti kenapa begitu banyak cinta yang terluka

Janji adalah pertaruhan tentang harga diri
Dan laki laki tanpa harga diri sama dengan mati
Aku akan memperlihatkan bagaimana cara laki laki menepati janji


Aku hanya berfikir bahwa mencintaimu sama dengan mendaki gunung Banyak jurang, lembah, hujan, kabut, badai dan sejuta rintangan yang ada Tapi semua itu tak pernah menghalangiku untuk sampai ke puncak Semua itu tak cukup hebat untuk menghentikan cinta

"Sayang, jangan pernah sebut aku laki laki, jika tak mampu menemanimu hingga mati"

Gunung telah mengajariku cara untuk menjadi laki laki 
Love You Forever



Comments

Popular posts from this blog

MEDINI (sepenggal surga yang tercecer di tanah Kendal)

Bagi sebagian besar pendaki gunung di daerah Semarang, ungaran dan Kendal, pasti tidak asing lagi dengan perkebunan teh Medini yang merupakan salah satu jalur pendakian ke gunung ungaran.  hamparan kebun teh luas yang menghijau dan segarnya udara pegunungan, sering kali menjadi daya tarik dan "klangenan" tersendiri bagi para pendaki. tidak mudah untuk mencapai lokasi, tapi cukup sebanding dengan apa yang akan kita dapatkan.  

Goenoeng Lawoe (tempo dulu)

Goenoeng Lawoe atau gunung Lawu ejaan sekarang menurut EYD adalah gunung di wilayah dua propinsi, yakni propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seperti yang kita tahu, gunung ada sejak jaman kita manusia sekarang belum lahir, begitu juga Lawu ada sejak tempo doeloe dan telah banyak mengalami perubahan. Ini untuk mengenang Lawu saat silam, dan tempat - tempat yang akrab bagi pendaki Lawu masa sekarang dan masa lalu.

ANAK KRAKATAU

Kebangkitan roh Krakatau itu awalnya dilihat oleh sekelompok nelayan pada suatu sore, 29 Juni 1927. "Dengan suara bergemuruh, gelembung-gelembung gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut," tulis Simon Winchester (2003), menggambarkan kemunculan gunung baru dari bekas kaldera Krakatau, "Gelembung-gelembung itu meledak menjadi awan-awan yang menyemburkan abu dan gas belerang yang berbau busuk."